Pendaftaran SPMB 2026/2027
Cileungsi, Selasa (3/3/2026) – Ratusan warga melaksanakan Shalat Gerhana Bulan di Masjid Baiturrahman Perguruan Muhammadiyah Cileungsi Kampus B, Perumahan PTSC, pada Selasa malam (3/3). Pelaksanaan ibadah ini berlangsung khusyuk bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H.
Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Ikhsan Abadi, S.Pd.I., selaku Kepala Panti Asuhan Al Ma’un. Sementara khutbah disampaikan oleh Ustadz Mustopa Idris, M.E.I., Ketua Muhammadiyah Cileungsi sekaligus Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Cileungsi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan buka puasa bersama dan Shalat Maghrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan.
Dalam khutbahnya, khatib menyampaikan makna dan pelajaran penting dari peristiwa gerhana yang terjadi di bulan suci Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa di era modern, sains mampu menerangkan secara rinci proses terjadinya gerhana bulan—yakni ketika matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Namun bagi seorang mukmin, fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.
Khatib menyampaikan tiga pelajaran utama dari peristiwa gerhana.
Pertama, membersihkan akidah dari takhayul. Pada masa lalu, sebagian masyarakat mengaitkan gerhana dengan peristiwa mistis atau kematian seseorang. Padahal Rasulullah SAW bersabda bahwa matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah dan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Ketika melihat gerhana, umat Islam dianjurkan untuk berdoa, bertakbir, mendirikan shalat, dan bersedekah (HR. Bukhari).
Kedua, gerhana menjadi pengingat akan datangnya Hari Kiamat. Khatib menjelaskan bahwa dianjurkannya shalat dengan ruku’ dan sujud yang panjang merupakan bentuk kesungguhan dan ketundukan kepada Allah SWT. Bahkan Nabi Muhammad SAW disebutkan keluar dengan tergesa-gesa saat melihat gerhana, menunjukkan rasa takut dan kesadaran akan kebesaran Allah. Gerhana diibaratkan sebagai “simulasi kecil” hari kiamat. Cahaya bulan yang redup hanya sementara dan akan kembali terang, namun kelak pada hari kiamat cahaya itu akan dipadamkan untuk selamanya.
Ketiga, momentum memperkuat iman di bulan Ramadhan. Pertemuan antara gerhana dan Ramadhan disebut sebagai teguran penuh kasih sayang dari Allah SWT. Ramadhan adalah bulan maghfirah (ampunan), sedangkan gerhana menjadi momen introspeksi dan taubat. “Bulan di langit sedang diredupkan cahayanya, tetapi jangan biarkan cahaya iman di dalam hati kita ikut meredup,” pesan khatib. Ia mengajak jamaah menjadikan peristiwa ini sebagai pemicu agar iman semakin kokoh dan bercahaya.
Di akhir khutbah, khatib mengajak umat Islam untuk mengamalkan empat amalan saat gerhana: melaksanakan Shalat Gerhana, memperbanyak istighfar dan doa, bertakbir, serta bersedekah.
Sebagaimana tertuang dalam Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Gerhana Total Selasa Wage 14 Ramadhan 1447 H atau 3 Maret 2026, puncak gerhana terjadi pada pukul 18.13.37 WIB.
Pelaksanaan Shalat Gerhana ini menjadi bukti semangat keimanan masyarakat Cileungsi dalam menyambut dan menghidupkan bulan suci Ramadhan dengan penuh kesadaran, kekhusyukan, dan refleksi diri.
Khutbah oleh Ustadz Mustopa Idris, M.E.I., Ketua PC Muhammadiyah Cileungsi sekaligus Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Cileungsi.